Imlek dan Hujan Rejeki: Sebuah Catatan Ringan di Awal Tahun

Imlek menyapa lagi. Jujur saja, sebagai penikmat suasana, ada kehangatan yang menjalar pelan namun pasti. Dulu, mungkin terasa berjarak. Namun hari ini, Imlek kian terasa ‘membumi’—bukan lagi sekadar perayaan eksklusif saudara Tionghoa kita, melainkan denyut harapan yang dinikmati satu bangsa.

Suasana pasar pecinan Glodok saat hujan dengan lampion merah Ket: Di balik rintik hujan, terselip doa sunyi tentang kemakmuran yang merata.

Rasanya baru kemarin sore kita membersihkan sisa arang bakar jagung tahun baru. Belum sempat hawa liburan benar-benar pamit, mata kita sudah kembali dimanjakan semburat merah di penjuru kota. Dari lampion sederhana di pasar tradisional hingga ornamen naga megah di lobi perkantoran.

Filosofi Hujan dan Jemuran yang Tak Kering

Ada satu filosofi Imlek yang selalu berhasil menampar ego saya: ‘Hujan adalah Rejeki.’

Bayangkan. Di musim basah seperti ini, keluhan seringkali jadi menu harian. Jemuran apek, jalanan becek, motor kotor, hingga drama ojek online yang sulit didapat. Kita kerap melabeli air dari langit sebagai ‘gangguan’.

Namun, saudara-saudara kita menawarkan kacamata berbeda. Air adalah nadi kehidupan. Turunnya hujan dimaknai sebagai turunya berkah yang membasuh bumi gersang. Sebuah optimisme level tinggi. Di tengah ekonomi yang pasang-surut, pola pikir ‘mensyukuri kesulitan sebagai pertanda datangnya kemudahan’ adalah obat paling mujarab bagi kewarasan kita.

"Toleransi tertinggi tak lahir dari pidato kaku, melainkan saat kita mampu ikut tersenyum tulus melihat tetangga kita berbahagia menyambut hari rayanya."
Sajian kue keranjang (nian gao) dan teh hangat di meja kayu Ket: Manis dan lengket, seperti itulah seharusnya hubungan antar sesama.

Amplop Merah dan Aliran Kasih Sayang

Bicara Imlek tak lengkap tanpa menyinggung amplop merah alias Angpao. Di grup WhatsApp, ini sering jadi bahan candaan: ‘Mana nih angpaonya?’

Mari lihat lebih dalam. Tradisi ini mengajarkan sirkulasi ekonomi yang sehat dan penuh empati. Mereka yang mapan berbagi pada yang sedang bertumbuh. Bukan penumpukan harta, melainkan aliran kepedulian.

Kita yang tak merayakan pun ikut ‘kecipratan’ berkahnya. Abang ojol panen orderan hampers, pedagang kue keranjang dadakan laris manis, hingga pekerja yang bisa rehat sejenak menikmati tanggal merah. Tanpa sadar, roda ekonomi berputar lebih kencang karena satu perayaan ini.

Menjemput Harapan yang ‘Alot’ namun Manis

Tahun ini, mari belajar dari filosofi Kue Keranjang. Teksturnya alot, namun manis. Hidup mungkin akan menyuguhkan tantangan yang ‘alot’ tahun ini, tapi percayalah, hasil akhirnya pasti manis jika kita menolak menyerah.

Sudahi perdebatan kaku di media sosial. Nikmati saja suasananya. Aminkan segala doa baik. Karena pada dasarnya, kalimat ‘Gong Xi Fa Cai’ yang berisi doa kemakmuran, adalah harapan universal yang kita panjatkan setiap hari, apapun bahasa dan keyakinan kita.

Selamat menikmati libur. Semoga rejeki Anda tahun ini mengalir deras, sesejuk hujan di bulan Februari.